Analisis Usulan Pemilihan Jalan Untuk Car Free Day Kota Bandung
Oleh: Ramadhani Pratama - 13407126
“Car free day ternyata bukan
untuk pengurangan polusi,
namun penambahan ruang publik insidental
baru…”
Car Free Day (hari bebas kendaraan
bermotor) yang semakin marak diterapkan di kota-kota besar
di Indonesia, kini menjadi suatu trend tersendiri yang semakin digemari masyarakat. Awalnya, Kota
Jakarta yang menerapkan hal
ini di jalan
MH. Thamrin – Sudirman,
dan ternyata mendapat sambutan yang hangat dari warga
kota, sehingga
hingga sekarang diperluas menjadi jalan HR. Rasuna Said, dua jalan protokol
Jakarta. Sementara itu, beragam Kota besar di Indonesia mulai menyusul, sebagai contoh, Kota Medan dengan Jalan Gatot Subroto,
Kota Semarang dengan Jalan Pahlawan, Kota Surabaya dengan Jalan Raya Darmo, Kota Jogjakarta
dengan Jalan Kaliurang, Kota Balikpapan dengan
Jalan Jend. Sudirman, dan lainnya.
Memang dari
segi manfaat untuk penghijauan dan pengurangan polusi, event ini mempunyai dampak
yang cukup besar, setidaknya menjadi seperti “rehat”-nya sebuah jalan
yang sibuk. Tidak hanya polusi udara yang tereduksi, namun juga polusi
suara. Namun yang membuat CFD (Car Free
Day, red) ini menarik bukanlah terletak pada sisi pengurangan
polusinya, namun ternyata keterbukaan ruang-ruang publik baru bagi masyarakat
kota, yang hal ini sudah
sangat sulit ditemui.
Ketika CFD diberlakukan,
banyak masyarakat yang melakukan jogging, rekreasi sederhana, bersepeda, berfoto ria,
bahkan bermain futsal, basket, dan permainan tradisional seperti gobak sodor. Banyak di antara mereka yang bermain bersama teman sebayanya,
atau keluarga. Ini memperlihatkan bahwa CFD adalah ruang-ruang publik insidental baru yang digemari. Ketersediaan ruang publik yang minim, atau akses yang jauh menambah tingkat
kesukaan ini.
Kota Bandung mulai bulan Mei ini akan kembali menerapkan CFD setelah sebelumnya diadakan di Jalan Diponegoro
– Gasibu. Menurut Polwiltabes Kota Bandung, terutama
Direktorat Lalu Lintasnya, pemberlakuan ini akan
rutin tiap pekan, mulai pukul
06.00 hingga pukul 10.00. Sampai sekarang ada tiga alternatif
jalan yang akan dijadikan tempat CFD: Jalan Ir. H. Juanda (Dago, mulai dari Simpang
Dago – Taman Cikapayang, sekitar
1,5 km), Jembatan Layang Pasupati (sekitar 2,6 km), dan Jalan Braga (tempat batu andesit,
sekitar 400 m).

Jalan Ir. H. Juanda menjadi
kandidat terkuat dikarenakan nuansa jalan ini yang masih hijau dan
terletak di daerah pemukiman. Segmen jalan ini
adalah masyarakat sekitar Dipati Ukur, Tubagus Ismail, Dago Atas, Cisitu, Siliwangi,
Taman Sari, dan Daerah Dago Bawah,
yang kesemuanya banyak area
pemukiman penduduk. Kalau ini diberlakukan,
skenario pengalihan arus akan
lebih mudah, bisa melewati Jalan
Taman Sari, atau Dipati Ukur. Namun, ada beberapa isu yang menghambat penerapan CFD di jalan ini, pertama
adalah soal adanya RS. Boromeus, yang sewaktu-waktu bisa
saja ambulance-nya dipakai dalam keadaan
darurat keluar-masuk RS.
Kedua, terkait banyaknya Factory Outlet dan
Restaurant yang memang
pangsa pasar terbesarnya adalah wisatawan yang berkunjung ke Bandung pada akhir pekan.

Selanjutnya, Jembatan
Layang Pasupati, yang membantang dari ujung barat Kota Bandung hingga utara-tengah Kota Bandung sebagai kandidat kedua. Jika CFD diterapkan, masyarakat Cipaganti, Sukajadi, Sarijadi, Sekitar Pasir Kaliki, Taman Sari, dan Dago akan sangat
antusias mendatangi event ini, ditambah jembatan ini adalah salah
satu tempat yang asik untuk menikmati
panorama Kota Bandung beserta gunung-gunung
yang melingkupinya. Namun, skenario lalu lintas
untuk jembatan ini sangatlah rumit,
dikarenakan jembatan ini adalah penguhubung
Bandung bagian barat dengan timur, yang melewati lembah sungai Cikapundung, dikhawatirkan kemacetan akan terjadi mulai
dari bawah jembatan layang, hingga kawasan cipaganti bawah, dan jalan dago
bawah karena kendaraan akan dialihkan memutar ke utara atau
selatan.
Jalan Braga (bagian
batu andesitnya) sebagai kandidat terakhir mempunyai keunikan tersendiri tentang wisata sejarah dan letaknya
yang di pusat kota, namun
jauh dari pemukiman penduduk. Dan memang sudah ada
rencana bahwa jalan ini kedepannya
akan dijadikan city walk
yang bebas kendaraan selamanya. Untuk skenario lalu lintas juga mudah,
kendaraan bisa dialihkan lewat jalan Banceuy, Naripan, atau Veteran. Namun yang menjadi kendala adalah kondisi jalan braga yang sempit dan pendek, juga
bangunan-bangunan yang mengapit
memberi kesan sempit jalan ini,
sehingga kesan ruang-ruang publik ini kurang.
Sebenarnya mungkin
ada jalan yang bisa dijadikan CFD lagi di Kota Bandung, di antaranya Jalan
Asia Afrika, Jalan Cipaganti, Jalan Pajajaran, atau Buah Batu. Namun memang
perlu ada kajian sosial yang mendalam kembali, dan sementara ini
analisis resiko dan segmen efektif
masih menunjukkan bahwa Jalan Ir. H. Juanda yang harus diutamakan dalam CFD ini. Bahkan jikalau bisa, tidak hanya sampai
Taman Cikapayang, namun hingga Jalan Merdeka.
Semoga CFD ini dapat berlangsung konsisten, dan bisa diperluas
lagi untuk beberapa ruas jalan
di Kota Bandung, sehingga semakin besar dampaknya
bagi pengurangan polusi udara di
cekungan Bandung dan juga menambah ruang-ruang
publik baru bagi masyarakat berinteraksi. Sukses terus untuk
CFD di Indonesia.