
Namun, kondisi sangat berubah di Pilgub DKI 2012 kali ini. Suara PKS
yang mengusung Hidayat – Didik “anjlok”. Hal ini tentunya di luar ekspektasi
para kader PKS. Pasalnya, ekspektasi ini nampak dari kepercayaan diri PKS untuk
tetap maju seorang diri mengulang kejayaan 2007. Tidak hanya itu, tokoh yang
dimajukan PKS kali ini juga merupakan orang yang populer, sama populernya
dengan ketika Adang Daradjatun diusung pada 2007 yang lalu. Ada beberapa hipotesis
yang harus kita jadikan evaluasi dan diskursus untuk menyikapi fenomena “anjlok”-nya
suara PKS kali ini.
Euforia lalu
Hipotesis pertama yang perlu ditelaah adalah adanya euforia masa lalu.
Pilgub DKI 2007 meskipun secara suara memberikan kekalahan pada PKS, namun
nyatanya hal itu tetap membawa kabar gembira bagi PKS. Betapa tidak, PKS seorang
diri bisa meraih hingga 42%, jika dibandingkan dengan 20 partai lainnya yang
hanya meraih 58%.Tentunya euforia masa lalu inilah yang menjadi referensi utama
PKS dalam memajukan Hidayat – Didik. Begitu juga dengan apa yang terjadi di
tataran kader grassroot. Mereka
begitu yakin bahwa suara PKS sudah sedemikian kuatnya di Jakarta.
Ada fakta bahwa pada pemilihan legislatif untuk DPRD DKI Jakarta tahun
2009 PKS menempati juara dua (di bawah Partai Demokrat) dengan perolehan 17%,
namun hal ini nampaknya tidak banyak diingat. Memang pada awalnya PKS sempat
mendekati Fauzi Bowo untuk berkoalisi, dimana PKS waktu itu mengajukan
Triwisaksana sebagai cawagub. Namun, pada akhirnya PKS memajukan Hidayat –
Didik dengan harapan kedua tokoh nasional ini dapat mendongkrak perolehan suara
17% ini menjadi –minimal– urutan kedua agar masuk ke putaran kedua.
Hipotesis kedua mengenai faktor figur calon. Euforia 2007 yang
memajukan tokoh juga kembali diulang dengan memajukan tokoh yang juga populer,
dengan harapan akan membuahkan hasil yang tidak jauh berbeda. Namun, meskipun
Hidayat – Didik merupakan tokoh yang sudah berkapasitas nasional, tetap ada
perbedaan dengan Adang Daradjatun. Adang Daradjatun merupakan mantan Wakil
Ketua Polri, dan sedari awal memang merupakan tokoh yang bukan dibesarkan atau
ditokohkan oleh PKS. Figur ini juga yang membuat Adang Daradjatun lebih terasa
dimiliki oleh semua kalangan, mulai dari kaum agamis, preman, ormas, para
pengusaha, hingga floating mass.
Berbeda dengan Hidayat. Walaupun merupakan tokoh yang populer, namun masih
dimiliki hanya kalangan tertentu saja, terutama dari kalangan muslim dan
agamis. Sementara Didik juga masih dimiliki hanya oleh kalangan muslim dan
akademisi.
Melihat kondisi ini, wajar jika dengan Hidayat – Didik suara PKS tidak
dapat terdongkrak jauh. Hal ini membuktikan bahwa ternyata, fenomena besarnya
suara PKS pada 2007 lebih banyak ditopang oleh keberadaan floating mass. Mereka tidak lagi setia dan loyal untuk memilih PKS
karena figur yang tidak seperti Adang Daradjatun.
Kelas menengah
Kunci pertarungan PKS pada hampir di semua pilkada adalah keberadaan
kelas menengah. Selama ini jika kita amati, kader PKS dan basis sosialnya
memang dari kalangan kelas menengah dan kalangan intelektual. Namun, untuk kali
ini PKS nampaknya hanya bisa merebut suara dari kalangan intelektual. Sementara
suara dari kalangan kelas menengah beralih kepada calon-calon lainnya.
Kelas menengah memang merupakan fenomena yang menarik. Piliang (2011)
menyebutnya manusia kota. Ada 10 karakteristik manusia perkotaan di abad postmodern seperti ini. Kita tidak akan
membahas semua karakter tersebut satu per satu. Namun, yang menonjol dalam
kehidupan berpolitik adalah, kelas menengah ini cenderung berpikir ekonomis
ketimbang politis. Mereka juga individualis, mobilitas tinggi, padat aktivitas,
melihat sesuatu dari citra dan simbol, dan mudah terbawa informasi. Hal inilah
yang membuat kelas menengah atau manusia kota identik dengan apolitis dan
menjadi floating mass. Mereka mengalami
fenomena-fenomena yang terjadi dengan paparan tiap fenomena berkelebat dalam waktu yang singkat.
Lantas digantikan dengan cepat oleh fenomena-fenomena lain. Sehingga, floating mass ini mudah melupakan
sesuatu, kecuali jika ada pemantiknya. Hal ini seperti diungkapkan Virilio
(1991) dalam Piliang (2011).
Kali ini, floating mass tidak
berada pada kubu Hidayat – Didik, namun terdistraksi ke beberapa kubu seperti
Jokowi – Ahok dan Faisal – Biem. Akhirnya, suara floating mass paling besar jatuh kepada Jokowi – Ahok. Hal yang
paling menjadi sebab adalah di detik-detik terakhir jelang isu pilkada hangat
dibicarakan orang, Jokowi membuat sensasi dengan mobil Esemka. Sensasi inilah
yang dijadikan pemantik dalam mempengaruhi floating
mass untuk mengingat-ingat kembali kelupaan mereka akan karya-karya Jokowi
yang telah dibuat olehnya dahulu di Kota Surakarta. Inilah hipotesis yang
ketiga, yaitu beralihnya floating mass
dari Hidayat – Didik ke Jokowi – Ahok dikarenakan isu pemantik.
Hipotesis terakhir yang menyebabkan suara PKS anjlok adalah kelas
menangah yang sudah jenuh akan status quo.
Sudah dikatakan bahwa karakter kelas menengah di antaranya adalah mempunyai
mobilitas tinggi dan padat aktivitas. Hal ini –disadari atau tidak– membuat
kelas menengah selalu menemukan hal-hal baru dan mengejutkan, seperti yang diungkapkan
Bullock (1990). Fenomena-fenomena yang berkelebat secara cepat dalam pikiran
dan pandangan kelas menengah membuatnya “ketagihan”, menerka-nerka sesuatu yang
baru, dan cenderung mengabaikan fenomena yang sedang berkelebat ini kecuali hanya melihatnya sebatas permukaan. “Apa
fenomena selanjutnya?” Begitu kira-kira pertanyaan yang menyeruak di imaji
kelas menengah yang menjadi floating mass
ini. Dampaknya, status quo adalah
hal yang sangat dihindari.
Hidayat – Didik memang tidak mempunyai track record buruk selama pengalaman kepemimpinan dan karyanya,
namun sekaligus juga tidak ada sesuatu yang “mengejutkan” yang dilihat kelas
menengah. Inilah poin utamanya. Masyarakat kelas menengah tidak menemukan
karakter “kejutan” dalam diri Hidayat – Didik, melainkan akan tetap pada status quo. Bahkan hal ini juga mungkin
terhadap PKS yang dianggap tetap pada status
quo. Meskipun sempat membawa isu “partai terbuka”, namun toh nyatanya masyarakat lupa terhadap “kejutan”
yang dibuat oleh PKS ini.
Sebaliknya, Jokowi – Ahok, sekali lagi, melalui pemantik mobil Esemka
dan “kejutan-kejutan” yang pernah mereka buat sebelumnya menjadi faktor
kemenangan telak mereka atas PKS dan figur Hidayat – Didik. Boleh jadi Hidayat –
Didik pernah membuat “kejutan”, namun sayangnya hal ini tidak tertangkap oleh
media. Padahal kita sama-sama mengetahui bahwa masyarakat kelas menengah yang
padat aktivitas dan mobilitas tinggi pasti kekurangan waktu untuk mengamati dan
merenungi apa yang mereka rasakan melalui panca indera. Sehingga media menjadi
rujukan utama mereka. Sempurna!
***
Itulah empat hipotesis yang dapat kita jadikan bahan telaah dan
diskursus. PKS memang sudah mempunyai basis massa dari kalangan agamis,
intelektual, dan pemuda. Namun, PKS harus lebih bisa memainkan peran media
dalam mengambil simpati kelas menengah, yang notabene merupaka floating
mass dan biasanya mempunyai massa dalam jumlah besar. Caranya, dengan
melakukan “kejutan-kejutan” secara berkala, dan membuat pemantiknya pada
masa-masa mendekati momentum pemilihan umum. Mungkin hal ini bisa dilakukan
untuk Pilwalkot Bekasi, Pilgub Jawa Barat, dan Pilwalkot Bandung yang sebentar
lagi akan datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar