Tampilkan postingan dengan label Kereta Api. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kereta Api. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Mei 2010

Memilih Transportasi Ideal Untuk Kota Bandung

Memilih Transportasi Yang Ideal Untuk Kota Bandung

Kemacetan di jalan raya adalah problem yang biasa mendera kota besar di Indonesia, terutama pada jam-jam sibuk (rush hour) pagi dan sore hari. Sebutlah Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan kota lainnya mempunyai masalah yang hampir sama tentang kemacetan ini.

Beragam program juga telah dilaksanakan pemerintah kota-kota setempat untuk meminimalisasi kemacetan yang ada, seperti busway yang telah banyak diadopsi di kota-kota besar di Indonesia, kereta api commuter, dan bahkan Kota Jakarta sudah pernah mencoba waterway dan monorail, meskipun sampai sekarang nasib monorail di Jakarta masih terkatung-katung.

Transportasi yang efektif dan efisien untuk sebuah kota yang besar dan padat adalah transportasi yang bersifat massal, dalam artian dapat membawa penumpang/benda yang dipindahkan dalam jumlah yang banyak dalam satu kali perjalanan. Efektifitas sebuah transportasi massal dapat dilihat dari seberapa bisa alat tersebut mengantarkan penumpang hingga tujuan, dengan sarana dan prasarana yang ada atau akan diadakan. Sedangkan efisiensi dari sebuah transportasi massal bisa ditinjau dari kapasitas angkut penumpang, waktu tempuh, atau proporsi pengeluaran operasional dengan jumlah penumpang.

Setidaknya ada empat jenis transportasi massal yang biasa diadopsi oleh kota-kota besar di dunia, yaitu Busway, seperti yang terlihat di Bogotta, Monorail, seperti yang biasa terlihat di Kuala Lumpur, Subway, seperti banyak kota di Eropa, atau Commuter Rail Train seperti yang biasa kita lihat di Tokyo. Semua punya keunggulan dan kelemahan masing-masing, dan bisa disesuaikan dengan karakteristik kotanya.

Secara umum kota Bandung terdiri dari dataran dengan beberapa daerah bagian utara berbukit-bukit dan kontur yang tidak datar (flat). Kota Bandung juga dikenal dengan banyaknya persimpangan jalan dan jaringan jalan yang rumit, inilah sebabnya banyak diberlakukan aturan one way di Kota Bandung. Juga selain rumit, ternyata jalan-jalan utama di Bandung relatif sempit.

Selain itu, Kota Bandung merupakan salah satu kota terpadat di Indonesia (padat, bukan terbanyak penduduknya), ini menyebabkan perluasan sarana yang telah ada sedikit banyak harus melakukan pembebasan lahan. Lihat betapa sulitnya melakukan pelebaran jalan atau membuat jaringan jalan baru. Juga, Bandung dikelilingi oleh setidaknya enam kota penyangga yang setiap harinya banyak kaum komuter yang masuk ke Bandung dari kota-kota tersebut. Sebut saja Cimahi, Lembang, Soreang, Rancaekek, Jatinangor, dan Dayeuhkolot. Dengan adanya hal ini, rancangan transportasi yang ada tidak hanya untuk dalam kota, namun menghubungkan daerah penyangga dengan kota.

Busway sebagai alternatif yang tergolong murah nampaknya tidak bisa diterapkan secara efektif di Kota Bandung, kecuali di Jalan Soekarno-Hatta yang merupakan jalan raya terlebar di Bandung. Sisanya, problem jalan yang sempit, rumit, dan banyak persimpangan menjadi penghalang utama busway dapat diterapkan secara menyeluruh. Serupa, untuk transportasi dari daerah penyangga juga tidak feasible dikarenakan sampai saat ini jalan-jalan penghubung ke Bandung tetap dikategorikan sempit.

Monorail, sebagai alternatif kedua mempunyai biaya investasi yang lebih tinggi dibanding Busway, namun tertinggi kedua setelah Subway. Namun monorail mempunyai tingkat kemungkinan yang paling tinggi, dikarenakan letak rel yang elevated (melayang) dan bisa disejajarkan dengan jalan yang sudah ada, tidak memerlukan perluasan jalan di bawahnya, fleksibel, dalam artian sudut belokan trek yang tidak terlalu besar, dan mudah untuk kontur menanjak dan menurun.

Subway, yang membutuhkan biaya investasi termahal, juga mempunyai banyak ketidakcocokan dengan kota Bandung. Pertama, kontur berbukit-bukit bagian utara sangat tidak cocok untuk diterapkan di Bandung, karena sifat subway yang kurang fleksibel meskipun di bawah permukaan tanah. Kedua, kondisi Bandung yang padat sangat menyulitkan untuk konstruksi. Bisa dibayangkan akan berapa banyak bangunan yang dirombak pondasinya untuk membangun subway, dan misalkan dibangun di bawah jalan raya, kembali jalan raya yang sempit menjadi kendalanya.

Terakhir, yang paling sulit adalah pembangunan commuter train di dalam kota Bandung dengan membangun jalur-jalur baru. Misalkan pada permukaan tanah, kepadatan akan menjadi halangan, karena jaringan rel kereta butuh space yang luas terutama saat tikungan untuk menjaga maneuver kereta. Ataupun misalkan dibangun elevated seperti jalur KA Manggarai-Jakarta Kota, akan menelan investasi yang lebih mahal dari monorail dan membutuhkan lahan yang tidak sedikit. KA commuter untuk kota Bandung lebih cocok untuk menghubungkan daerah penyangga yang datar dengan pusat kota, misalkan Soreang, Cimahi, dan Rancaekek.

Pembahasan ini membawa kita pada kesimpulan bahwa monorail yang paling mungkin untuk dibangun sebagai transportasi massal di Kota Bandung. Bisa dibangun untuk menghubungkan daerah-daerah kantong pemukiman dan suburb ke pusat kota dan juga melingkar di dalam kota mengitari pusat kota.

Senin, 19 April 2010

DAN SEMUA TENTANG KECINTAAN

DAN SEMUA TENTANG KECINTAAN

 

Ketika peluit ditiupkan dengan kuatnya,

Dan ketika semboyan telah tegak terangkat mengudara,

Lalu hijau menggantikan merah…

 

Maka perjalanan sudah akan dilakukan,

Dengan doa,

Dengan harap,

Dengan cemas,

Meninggalkan suatu peraduan, untuk segera menyambut peraduan lainnya…

 

Di luar sana, keluarga melambaikan tangan,

Tanda perpisahan, perpisahan yang harus dilakukan,

Demi pertemuan kembali, di suatu waktu,

Waktu yang belum diketahui…

 

Dengan sedikit menghela, penggerak itu gagah menghadapi medan,

Dengan hanya ingin keselamatan, dan kenyamanan…

 

Dan ketika orang-orang di sana tidak mengerti,

Mereka hanya melihat saat ini, dan apa saja yang terlihat,

Tanpa memandang hal yang tak tampak,

Dan mungkin adil itu memang sulit,

Namun adil itu cinta…

 

Ada sesuatu yang hilang, dan itu menyesakkan,

Walaupun sebagian lain tidak merasakan,

Tapi setidaknya mereka tahu,

Karena cinta itu menuntut keadilan…

 

Yang terpenting, pelajaran ini sangat berarti,

Pelajaran tentang cinta dan keadilan,

Dan jangan sampai ada yang tersakiti lagi,

Dikemudian hari,

Karena cinta menuntut keadilan, bukan keberpihakan…

 

Selamat jalan,

Kami akan selalu merindukanmu,

Saat kami berdiri,

Saat kami menunggu,

Dan saat cinta itu mulai bersemi…

 

 

Photo by Ricki

Jumat, 17 Oktober 2008

Bogor ke Sukabumi

Wajah sumringahku mungkin tidak dapat ditutup-tutupi setelah membaca suatu berita pada beberapa media cetak dan internet. Raut wajah itu semakin menyala ketika melihat pembicaraan tentang berita itu ramai di dalam forum dan milis. Tambahlah keyakinan kesenangan ini ketika televisi juga memberikan porsi tersendiri terhadap berita tersebut.

 

Penasarankah kalian tentang berita yang membuat senyum terbuka lebar, wajah berseri-seri, dan pikiran melayang-layang?

 

Ya, inilah berita itu, berita yang sudah ditunggu-tunggu sebagian besar warga kota Sukabumi dan sebagian lain di Bogor, juga warga sekitar antara itu.

 

Jalur KA Bogor – Sukabumi aktif kembali awal 2009 !!

 

Dua tahun lalu, tepatnya bulan Juli 2006, warga Sukabumi mungkin terkejut dengan kebijakan PT KA yang menutup dan menghentikan pengoperasian jalur KA Bogor – Sukabumi. Betapa tidak, jalur yang oleh para railfans disebut jalur sutera (dahulu) saat itu mengalami defisit tajam akibat semakin berkurangnya okupansi kereta penumpang yang melayani trayek tersebut.

 

Kereta yang melayani rute tersebut adalah kereta K3 alias kelas 3, sebelum ditutup, trayek itu melayani dua trip per harinya dari tiap kota tersebut. Okupansi menurun setelah semakin banyaknya perusahaan transportasi lainnya (bus, red) yang melayani rute yang sama. Kondisi ini juga diperparah dengan kondisi rel yang sudah semakin tua dan jalur-nya yang naik turun bukit –lebih terjal daripada Purwakarta-Bandung.

 

Tapi nampaknya sekarang banyak penduduk terutama dari Sukabumi yang mengeluhkan agar jalur tersebut diaktifkan kembali, alasan utamanya ialah untuk menghemat waktu dan uang. Betapa tidak, Bogor-Sukabumi dengan bus, harga tiketnya rata-rata Rp.18.000,00 dengan waktu tempuh rata-rata 4 jam dikarenakan jalur ini sering dilanda macet walaupun tidak banjir (apaan sih??). Namun, dengan kereta ini, Bogor-Sukabumi paling lama 2 jam dengan harga tiket diperkirakan paling besar Rp.5.000,00 (sebelumnya Rp.2.500,00).

 

Para pedagang dari Sukabumi bisa lebih leluasa dalam memasarkan dagangannya, karena dari Sukabumi, mereka bisa langsung ke Bogor dengan kereta ini, dilanjutkan dengan KRL tujan Jakarta. Mereka bisa berangkat pagi, dan pulang pada sore hari, sesuai dengan rancana pengoperasian KA tersebut, 2 trip dari masing-masing kota perharinya.

 

Keuntungannya bukan hanya itu saja, jalur sepanjang 57 km ini juga merupakan jalur yang cukup indah dengan membelah celah antara Gunung Salak dengan Gunung Gede-Pangrango, bisa dibayangkan betapa berkelok-kelok dan naik turunnya jalur ini. Tercatat kira-kira ada 4 jembatan panjang dalam rute ini. Bogor yang berketinggian 245 mdpl dan Sukabumi 583 mdpl membuat rute ini menanjak dari arah bogor.

 

Mengenai kereta yang akan diopersiakan, PT KAI memilih aman untuk hanya mengoperasikan K3 (Ekonomi) dan belum berani mengambil resiko, karena mayoritas yang daerah yang dilewati jalur tersebut adalah daerah ekonomi rendah. Juga kota-kota yang dihubungkannya umumnya kota kelas 2 dan kelas 3. Akan tetapi, PT KAI memang berencana untuk mengoperasikan KA Eksekutif (K1) dan KA Bisnis (K2), mengingat ada beberapa daerah elit yang juga dilewati seperti Rancamaya, dsb. Namun untuk awal, K3 yang akan dioperasikan.

 

Untuk selanjutnya, Dephub juga akan merevitalisasi jalur terusan Sukabumi-Cianjur, dan selanjutnya Cianjur-Bandung, agar dari Jakarta ke Bandung punya alternative jalur.

 

Yah, ini dia yang membuat saya senang, pengen sih sekali-kali nyoba jalur ini, mengingat saya berkali-kali lewat jalur Bogor-Sukabumi, tapi naik mobil, ga naik kereta. Menurut berita di koran-koran, progress perbaikan jalur ini sudah lebih dari 90%, artinya bisa saja jalur ini dioperasikan sebelum 2009, yah kita berdoa saja!

Sabtu, 15 Maret 2008

Jakarta-Bandung

April 2005 warga Jakarta dan Bandung dikejutkan (sebenarnya ga juga sih) oleh rampungnya pembangunan jalan tol cipularang/purbaleunyi, pasalnya akibat pembukaan tol ini, waktu tempuh jakarta-bandung makin singkat. dari yang biasanya 3-5 jam, dengan adanya cipularang, waktu tempuh terpangkas menjadi 2 jam. hal ini membuta jarak 2 kota besar ini semakin "dekat" saja.

 

Pembukaan cipularang berdampak langsung bagi semua. kota bandung di akhir pekan menjadi ramai oleh para orang2 jakarta yang hendak wisata belanja, jalur puncak menjadi sepi dan omset para pedagang di sekitar jadi menurun (tapi itu dulu siih..), menjamurnya bisnis travel/shuttle service, dan yang paling parah, menurunnya jumlah penumpang kereta api koridor bandung-jakarta atau sebaliknya sebesar 70%.

 

Sebagai penggemar kereta api, gw merasa sedikit prihatin dengan apa yang di alami PT KA daops 2 bandung, sampai2 untuk kembali menaikkan pamor kereta api, tiket argo gede dari yang tadinya 75rb, sempat turun ke 60rb, dan pada akhirnya, baru2 ini menjadi 45rb (jadi lebih sering naik kereta deh, haha..).

 

Memang, kereta api punya kekurangan,

diantaranya waktu tempuh yang paling lama dibanding moda lain jakarta-bandung (bus, travel, pribadi). kalau yang lain kira2 membutuhkan waktu 2 jam, dengan KA bisa 3 jam, itu juga kalo on time. kelemahan kedua, harga tiket KA yang mahal (waktu itu) dibanding pesaingnya (sekarang sih udah murah..). ketiga, jauhnya spot untuk menjangkau KA dari rumah. kalo di jakarta, ada 2 stasiun tempat KA jakarta-bandung menaikkan penumpang, yaitu Gambir dan Jatinegara, tapi keduanya berdekatan dan agak ke pusat kota.

 

Tapi, ada juga kelebihan KA jakarta-bandung.

pertama, naik kereta itu nyaman loh.., bangkunya bisa disandarkan ke posisi semi terlentang, ada penopang kaki pula, dan jarak antar bangku depan dan belakangnya luas..udah gitu ga terlalu banyak goncangan dibanding lewat cipularang yang jalannya bergelombang2. Kedua, scenery yang indah. Jalur KA jakarta-bandung adalah salah satu jalur KA dengan scenery yang indah di Indonesia. setidaknya ada 3 jembatan hebat dan 1 terowongan panjang yang dilewati KA jakarta-bandung. 3 jembatan itu hebat karena panjang dan mempunyai dasar jurang yang cukup dalam, salah satunya jembatan cisomang (jenis arch bridge/jembatan lengkung) yang jarak permukaan jembatan ke dasar jurang sampai 100m. kemudian terowongan yang dilewati yaitu terowongan sasaksaat yang panjangnya 942 m. ck..ck..ck

 

so, dari foto2 yg gw upload, tertarik naik kereta jakarta-bandung?

 

foto2 diatas bukan hasil karya gw, coz gw ambil dari internet.. biar ga disangka plagiat, hehe..