Tampilkan postingan dengan label Motivasi dan Penyemangat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi dan Penyemangat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Juli 2012

Viva La Vida! (2/2)


I used to rule the world
Seas would rise when I gave the word
Now in the morning I sleep alone
Sweep the streets I used to own

Pada paragraf pertama ini, hal yang dibahas adalah kondisi perubahan yang begitu drastis dari penguasa. Coldplay menggunakan kata ganti “aku” dalam menggambarkan penguasa tersebut. Baris pertama dan kedua menggambarkan bahwa “aku” dahulu berkuasa atas dunia. Kekuasaan yang hebat ini juga tergambar ketika “aku” bertitah, lautpun bisa meluap. Namun, kondisi berubah sedemikian drastisnya. Dahulu berbeda dengan sekarang. Sekarang, “aku” tidur sendiri di pagi hari, tanpa siapapun (karena biasanya penguasa dikawal dimanapun dia berada). Tidak hanya itu, “aku” sekarang juga menjadi tukang sapu jalanan, yang semula jalanan itu adalah milik-“ku”. Inilah penggambaran jelas dari pergantian kekuasaan. Penguasa yang tadinya berkuasa, kini lemah tak berdaya, bahkan hampir mendekati hina.

Viva La Vida! (1/2)


Banyak orang di dunia mengenal Coldplay. Tidak terkecuali orang Indonesia sendiri. Ya, Coldplay adalah nama sebuah band asal UK yang memainkan lagu-lagu ber-genre pop-rock. Saya tidak akan membahas mengenai band ini lebih jauh. Namun, yang akan saya bahas dalam tulisan ini adalah sebuah lagu yang cukup terkenal di dunia dan sempat menghiasi belantika musik internasional kira-kira empat tahun yang lalu (2008). Judul lagu ini adalah Viva La Vida.

Viva La Vida berasal dari bahasa Spanyol, yang dalam bahasa Inggris berarti Long Live Life. Dalam Bahasa Indonesia artinya kurang lebih adalah hidup yang sangat panjang. Mungkin lebih dekat kepada arti “abadi”. Sepintas, lagu ini menceritakan mengenai pergantian kekuasaan. Kekuasaan dari old king ke long live the king.

Kamis, 31 Mei 2012

Beberapa Petuah Tukang Demo


 “Sekarang jaman udah berubah! Mahasiswa turun ke jalan itu udah kuno! Ga intelek! Ga elegan! Sekarang jamannya menghasilkan karya, menghasilkan inovasi, pergi ke desa, bikin comdev”.

Setidaknya itulah beberapa celetukan sejumlah teman-teman mahasiswa, setidaknya sejumlah mahasiswa yang saya temukan di ITB. Sejumlah mahasiswa tersebut jarang memang mengatakan hal-hal tersebut di forum-forum umum. Mereka lebih sering terlihat di “forum dunia maya” seperti Facebook dan Twitter. Lucunya, mayoritas dari orang-orang tersebut jarang saya lihat membicarakan langsung keluhan-keluhannya pada aktivis-aktivis gerakan politik mahasiswa. Mereka cenderung berdiskusi dengan sesama “anti” gerakan politik. Alhasil, pemikiran mereka “terkunci” pada anggapan-anggapan yang ada pada mereka dan semakin keras kepala terhadap pendapat mereka.

Sabtu, 19 Maret 2011

Sicher...

Sicher...

Kini, kehidupan mulai memasuki babak baru

Ketika hujan datang tidak menentu

Ketika matahari tidak lagi ditemui sepanjang hari

Ketika bintang tak lagi menemani malam yang sunyi

Saat semua pergi

Yang ada hanya tinggal asa

Sampai kita benar-benar punya sayap

Atau teknologi telah maju sedemikian pesatnya

Atau kita bisa mengabaikan gaya gravitasi dan bebas pergi

Ketika itu, meskipun jauh

Matahari akan ku gapai

Bintang akan ku kejar

Hujan akan ku bawa kembali ke bumi

Membasahi setiap hati yang kering

Menghidupkan jiwa-jiwa yang mulai hampa

Namun,

Kapankah kita punya sayap?

Kapan pula teknologi maju sedemikian pesatnya?

Juga kapan gravitasi nol?

Yang ada, hanya pertolongan Allah

Dan itu dekat

Senin, 13 Desember 2010

Kelahiran Para Aktivis dan Kematian Para Idealis

Kelahiran Para Aktivis dan Kematian Para Idealis


Siapa tidak kenal aktivis mahasiswa seperti Sjahrir, Hariman Siregar, Fadjroel Rachman, Mustafa Kamal, dan aktivis mahasiswa lainnya di masa lalu? Orang-orang seperti mereka menjadi inspirasi di eranya. Suara lantang mereka yang terus bergaung di telinga penguasa pongah di eranya hingga saat ini terekam secara manis di benak penerus-penerusnya. Getir perjuangan yang dilakukannya selama mahasiswa tidak lekang ditelan zaman.

Kebaikan-kebaikan bangsa ini beserta kesejahteraannya menjadi hal yang mereka dambakan selagi mahasiswa. Mereka itulah aktivis sejati. Penjara tidak pernah menghentikan langkah mereka. Tahanan politik adalah hal biasa. Cekalan dan cacian orang-orang yang tidak suka pada mereka adalah batu penghalang yang segera mereka lewati. Sekali lagi, mereka itulah aktivis sejati. Aktivis mahasiswa sejati. Pemuda gagah, pahlawan-pahlawan kecil yang akan menjadi pahlawan besar. Pemuda enerjik yang kritis. Itulah aktivis. Ditambah dengan kecerdasan dan keahliannya, mereka itulah aktivis mahasiswa.

Aktivis saja tidak cukup

Sejarah kemudian mencatat bahwa Sjahrir (sekarang almarhum) menjadi ekonom sejati. Mendapat gelar doktor dalam bidang ekonomi politik dari kampus paling prestisius dunia: University of Harvard. Kemudian puncak karirnya sebelum ia meninggal adalah menjadi penasehat presiden untuk urusan ekonomi. Presidennya adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Ia yang dahulu lantang menentang modal asing bersama Hariman Siregar, harus juga merasakan menjadi pihak yang dikritik. Bahkan, SBY yang selalu ia nasehati termasuk orang yang pro dengan modal asing, privatisasi, dan liberalisasi. Hasilnya, Krakatau Steel sudah setengah privatisasi. Maka satu orang idealis telah mati. Namun Sjahrir tetaplah dikenal sebagai aktivis.

Sosok seorang Sjahrir mungkin tidak terlalu terlihat telak jika kita ingin menggambarkan matinya seorang idealis. Kita bisa megambil contoh lain, tidak perlu Sjahrir. Sebagai contoh, ada seseorang yang dahulu ketika mahasiswa sangat lantang berbicara mengenai kesejahteraan bangsa. Kritiknya selalu pedas dan menjadi inspirasi rekan-rekannya. Geraknya dan manuver-manuvernya bahkan bisa sampai mengguncang sedikit penguasa pongah di gedung putih sana.

Akan tetapi, setelah ia lulus, namanya bagaikan tersapu hembusan angin. Tidak ada lagi kritik-kritik darinya, tidak ada lagi manuver-manuver darinya. Tekanan hidup mungkin membelenggunya, hal ini tiada mengapa. Namun jika kenyamanan hiduplah yang mematahkan langkahnya, mematikan degup jantungnya saat melihat ketidakadilan, dan mengeringkan air matanya terhadap penderitaan bangsanya, maka ia benar-benar mati. Ia aktivis, namun bukan idealis. Perusahaan asing menjadi belenggu baginya, kerajaan bisnis menjadi pemenuh pikirannya. Ia benar-benar mati.

Idealis juga tidak cukup

Lain halnya dengan Hariman Siregar. Pasca lulus sebagai mahasiswa, ia tetaplah aktivis, tetaplah idealis. Manuver-manuvernya tetap terasa hingga kini. Kata-kata pedasnya masih santer terdengar. Pernah mendengar isu pencabutan mandat SBY-JK pada tahun 2007? Itu adalah manuvernya. 400 orang pada hari itu bergerak memenuhi jalanan ibukota dengan mengusung tema “Pawai Cabut Mandat SBY-JK”. Kegelisahannya masih menyala-nyala, getir perjuangan itu masih terasa hingga saat ini, meskipun usianya sudah lebih dari setengah abad.
Kita menemukan kelahiran sosok aktivis dan juga kelahiran sosok idealis sekaligus. Sosok seperti Hariman Siregar juga makin jarang ditemukan saat ini. Sosok seperti ini yang harus terus menerus ditularkan kepada generasi sekarang, sebuah karakter yang cukup lengkap: ia aktivis, dan ia idealis.

Namun masih ada hal yang mengganjal dari sosok seorang Hariman Siregar. Ketika banyak pihak mempertanyakan motif gerakan-gerakan yang ia buat, maka seketika itu ia menjawab bahwa motifnya adalah memperbaiki keadaan bangsa. Kata-kata itu diikuti dengan ketidakinginannya untuk meraih kekuasaan.

Ternyata idealis juga masih belum cukup. Ada satu instrumen yang hilang. Instrumen dalam mewujudkan mimpi-mimpi besar para aktivis-idealis. Instrumen itu adalah kekuasaan. Sekarang adalah zaman globalisasi, kapitalisasi, glamourisasi, dan nyaman-isasi. Gerakan-gerakan seperti itu memang bagus untuk dinamisasi sebuah proses demokrasi. Namun, kita perlu memilih proses yang lebih efektif dalam hal dampaknya, meskipun itu tidak efisien. Belum sempurna suatu idealisme tanpa proses yang lebih berintegritas lagi, yaitu mewujudkan idealisme tersebut dengan kekuasaan. Kita melihat idealisme Hariman Siregar adalah kesejahteraan bangsanya, namun dengan membatasi dirinya tidak pada area kekuasaan, maka semakin lama idealismenya akan terkebiri menjadi “pewacanaan dan pengembangan opini” saja. Sadar atau tidak sadar.

Idealisme tidak boleh tercapai. Boleh jika target-targetnya yang tercapai. Karena, jika idealisme tercapai, berhentilah kita dan tidak bergerak. Idealisme akan selalu berada beberapa langkah di depan diri kita, dan tidak akan pernah berhasil kita gapai. Itulah yang menarik kita untuk terus menerus bergerak mengejarnya.

Melahirkan generasi idealis

Kini pekerjaan rumah terbesar kita adalah bagaimana melahirkan sebuah generasi idealis. Generasi yang terus menerus bergerak dan semakin lama gerakannya semakin berintegritas dan progressif. Generasi-generasi yang tidak termakan oleh opini buruk zaman. Generasi yang berprinsip dan berkomitmen kokoh. Generasi yang mempunyai idealisme yang sama dengan pendahulu-pendahulunya, yaitu kebaikan-kebaikan masyarakat dan kesejahteraannya.

Untuk itu, basis ideal yang harus ditanamkan pada generasi-generasi selanjutnya adalah basis ideal yang kokoh juga. Basis ideal yang kuat hujjah-hujjahnya, basis ideal yang hebat pondasi-pondasinya. Basis ideal yang juga memberikan spirit, ruh, dan jiwa-jiwa penggerak. Suatu konstruksi yang komprehensif: unsur ideologis dan unsur spiritualnya. Sehingga karakter-karakter yang terbangun kedepannya adalah karakter yang akan selalu digerakkan oleh spiritnya untuk mewujudkan idealisme dari sisi ideologisnya.

Senin, 01 November 2010

Tentang Harapan...

Tentang Harapan…

Nasihat dan Keteladanan

Sebagian dari kita mungkin mengetahui tentang Tariq bin Ziyad. Orang-orang spanyol mengenalnya dengan nama Taric el Tuerto, yang berarti Tariq yang memiliki satu mata. Fokus. Dia adalah seorang jenderal perang. Dengan pimpinannya pasukan perang muslim berhasil menaklukkan daerah Andalusia, daerah yang kini menjadi Spanyol, Portugal, Andorra, dan Giblartar. Dia adalah salah satu referensi terbaik jika kita ingin mencari tokoh –selain rasul- yang terkategorikan sebagai pemimpin. Pemimpin yang hebat, yang bisa menggelorakan semangat pasukannya, membangkitkan semangat juangnya, untuk satu tujuan: tegaknya Islam di seluruh penjuru bumi Allah.

Pemimpin adalah ia yang bisa membagi mimpinya, dan orang lain mengikutinya karena mimpi yang dibaginya. Tidak mudah menggerakkan ribuan orang hingga mereka benar-benar bergerak. Selama ini ternyata membuat orang lain sepakat dengan mimpi kita tidaklah cukup. Menjadikannya mimpi bersama ternyata merupakan tahap paling dini dalam membuat orang lain mau bergerak.

Menjadikannya meresap dalam hati, baru hanya bisa mengeluarkan rasa. Belum bisa menggerakkan raga. Butuh satu sentuhan lagi untuk membuat orang lain bergerak: kepeloporan dan keteladanan. Karenanya, tidak heran jika Rasul mengemukakan bahwa satu keteladanan lebih baik ketimbang seribu nasihat. Bukan menafikkan nasihat, bukan pula mengecilkan efektivitas dari sebuah nasihat, akan tetapi menyempurnakannya dengan teladan adalah jauh lebih baik ketimbang hanya meninggalkannya dengan nasihat.

Komitmen dan Totalitas

Sekarang kita kembali kepada penaklukkan Andalusia. Sebenarnya, penaklukkan ini bukanlah kerja keras Tariq seorang. Sebelumnya Tharif bin Malik pernah membawa pasukannya ke Andalusia untuk merintis dan menyelidik tentang kekuatan kerajaan Visigothic, yang sedang berkuasa di sana. Hingga pada akhirnya mimpi ini diteruskan oleh Tariq.

Dengan sekitar 7000 bala tentara yang telah dibekali dengan semangat dan keimanan, Tariq mantap untuk maju. Menyeberangi laut dengan membawa pasukan yang banyak bukan perkara mudah. Tanpa komitmen yang kuat, bisa saja terjadi kericuan dan penurunan mental pasukan untuk berperang. Bukan tidak mugkin sebuah kapal lari dan memisahkan diri dari rombongan yang ada di lautan. Apalagi dengan fakta bahwa pasukan yang dipimpinnya berasal dari suku-suku yang berbeda: Barbar dan Arab. Sebagian besar pasukan yang terdiri dari suku Barbar adalah atas kiriman dari pemimpin Afrika Utara saat itu, Musa bin Nushair, dan sebagian lainnya adalah suku Arab kiriman dari Khalifah Al-Walid, dari Damaskus.

Sungguh, tidak ada kata lain yang dapat mempersatukan dua suku yang berbeda tempat berkembangnya untuk menjadi satu kesatuan yang rapi kecuali dengan adanya komitmen dan kesadaran bersama terkait mimpi yang akan dituju.

Setelah tiba di Andalus, Tariq langsung memerintahkan pasukannya untuk membakar semua kapal yang mereka pakai untuk menyeberang. Sebuah hal yang mengagetkan. Namun lebih mengagetkan lagi ketika kita mengetahui bahwa memang pasukannya adalah pasukan yang berkomitmen dan ingin total dalam berperang, sehingga sekejap habislah semua kapal mereka. Tentunya manusiawi ketika ada yang berpikir bahwa keputusan ini adalah keputusan yang bodoh, tentu ada yang tidak setuju dengan keputusan ini. Namun, komitmen telah meredam semua gejolak emosi yang terjadi. Kesadaran dan totalitas dalam berjuang.

Penaklukkan Andalusia juga didukung oleh melemahnya kekuatan kerajaan Visigothic akibat konflik internal. Dan kita dapat belajar bahwa kerajaan ini punya masalah dengan mimpi-mimpinya, dengan tujuan bersama setiap rakyatnya, yang pada akhirnya membuat mereka lemah. Sekali lagi, komitmen terhadap tujuan adalah hal yang sangat penting.

Keikhlasan dan Kesabaran

“Tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian: Demi Allah, tidak ada yang dapat kalian sekarang lakukan kecuali bersungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran.” (Tariq bin Ziyad)

Kita telah belajar mengenai totalitas dan komitmen. Sekarang kita akan belajar mengenai keikhlasan dan kesabaran. Mewujudkan mimpi tidak semudah melahirkannya. Tentu akan ada riak-riak yang terjadi, akan ada kerikil-kerikil tajam di sepanjang jalan, tebing curam yang harus dilewati, dan beragam cobaan lainnya. Keikhlasan dan kesabaranlah kuncinya.

Ini baru dalam konteks penaklukan Andalusia, yang mungkin hanya dilakukan dalam hitungan hari atau bulan. Lalu jika kita membesarkan konteks bahasan kita mengenai penaklukan peradaban, tentunya kadar keikhlasan dan kesabaran haruslah juga semakin besar. Ikhlas dalam bergerak, berperan, membagi peran, ataupun diberikan peran. Juga sabar dalam menghadapi konflik, sabar dalam mengatasi penurunan ghirah, menjaganya, dan bahkan membuatnya agar tetap menjadi tujuan turun temurun antar generasi.

Yakinlah, setiap tujuan butuh keikhlasan dan kesabaran. Apalagi jika tujuan itu adalah perintah Allah. Ia tidak akan menyia-nyiakan usaha kita. Datangnya musibah adalah evaluasi bagi kita untuk memperbaiki keikhlasan, juga ujian mengenai kesabaran.

Sekarang, sudah sampai manakah harapan bersama kita sekarang?

Senin, 09 Agustus 2010

Sarekat Dagang Islam (SDI)

Sarekat Dagang Islam (SDI)

Perjuangan pemikiran saat itu diawali oleh kaum terpelajar, dengan membentuk wadah yang dapat menyuarakan aspirasi sebanyak-banyaknya pihak. Wadah ini ibarat kendaraan dan payung. Disebut kendaraan karena didirikan untuk mencapai tujuan, dalam artian adanya kendaraan bertujuan untuk mempermudah, bukan mempersulit. Juga sebagai payung artinya tempat berlindung, hal ini sesuai dengan fitrah manusia yang akan semakin berani bersuara ketika beramai-ramai.

Kendaraan perjuangan yang pertama kali didirikan saat itu adalah Sarekat Dagang Islam (SDI), yaitu pada tahun 1905. Organisasi ini didirikan oleh Haji Samanhudi, seorang pedagang batik dari Surakarta (Solo), dan bertujuan menghimpun pengusaha-pengusaha batik untuk memperkuat perekonomiannya untuk ‘melawan’ dominasi pengusaha Cina dalam bidang tekstil dan batik juga. Namun, perlawanan terhadap dominasi pengusaha Cina ini hanya salah satu tujuan dari SDI. Tujuan utamanya sebenarnya adalah menguatkan perekonomian umat, sehingga umat mancapai kemandiriannya dalam ekonomi.

Sebenarnya perekonian yang semakin lemah bukan saja melanda umat Islam, tetapi hampir seluruh penduduk pribumi. Melemahnya kondisi ini terjadi sudah lama, yaitu sejak penjajah Eropa menguasai Nusantara[1]. Penjajah saat itu melakukan berbagai cara untuk menguasai wilayah Nusantara, mulai dari penjajahan fisik secara langsung, pencaplokan daerah belum terkuasai, ataupun dengan perjanjian-perjanjian licik yang merugikan pribumi. Sehingga ketika banyak daerah terkuasai, terutama tanah, maka perekonomian semuanya akan dikuasai oleh tuan-tuan tanah. Penduduk pribumi pada akhirnya saat itu hanya menjadi pekerja.

Kita tidak akan terlalu mendalam dalam membahas tentang Sarekat Dagang Islam ini, dikarenakan tulisan ini bukanlah tulisan yang kembali mengulas sejarah masa lampau, menceritakan pergolakan sosial dari waktu ke waktu di masa lampau, kemudian mengambil sebanyak-banyaknya literatur untuk merekonstruksi sejarah yang kurang. Tulisan ini bertujuan untuk mengambil sejarah sebagai bahan pelajaran sesuai dengan isi bab buku ini, yaitu peralihan metode perjuangan.

Saya menilai bahwa perjuangan para pemuda dan kaum terpelajar yang tergabung dalam SDI adalah perjuangan yang sangat cerdas. Hal ini dikarenakan beberapa hal berikut:

1.

Perjuangan saat itu bukanlah lagi bergaya pemberontakan fisik yang mengejutkan dan keras. Namun lebih berupa perjuangan pemikiran yang sifatnya perlahan, lembut, namun tetap masif. Hal ini sesuai dengan pembahasan kita terdahulu bahwa kondisi saat itu sangatlah berpotensi terjadinya konflik jika diteruskan dengan perjuangan fisik.

2.

Perjuangan dimulai dari ranah ekonomi. Bahwa ekonomi sangat berhubungan dengan hajat hidup orang banyak. SDI adalah pelopor kemandirian ekonomi masyarakat berbasis jiwa kewirausahaan dikarenakan pada saat itu kita dapat melihat bahwa para pekerja sebagian besar adalah bekerja untuk pihak penjajah. Perekonomian yang kuat adalah salah satu dari tiga pilar kekuatan suatu bangsa. Pilar lainnya adalah kekuatan militer dan kekuatan agama[2]. Dalam makna yang lebih luas, kekuatan agama ini bisa diibaratkan sebagai kekuatan spiritual suatu negara, ideologinya, dan politiknya.

3.

Perjuangan langsung menyentuh pada sisi pragmatisme masyarakat. Prinsip melayani sebelum mengajak dalam pola penguatan basis dukungan diadopsi oleh SDI. Masyarakat saat itu memang sedang dibuat pragmatis dan diselimuti oleh kenyamanan politik etis penjajah. Hal ini berdampak pada timbulnya preferensi masyarakat terhadap hal yang langsung memenuhi kebutuhan hidupnya: siapa yang memberikan kami kesempatan mendapat sesuap nasi, akan kami ikuti.

Tahun 1912 menjadi momentum perubahan besar SDI. Saat itu SDI di bawah kepemimpinan Haji Oemar Said Tjokroaminoto merubah dirinya menjadi Sarekat Islam (SI). Perubahan nama dilatarbelakangi oleh keinginan untuk memperluas metode dan segmentasi basis dukungan, untuk selanjutnya menggalang kekuatan sebuah perjuangan. Sarekat Islam tidak hanya bertujuan untuk berjuang dalam hal perdagangan dan ekonomi semata, tetapi lebih dari itu, yaitu perjuangan politik. Hal ini dibuktikan dengan usaha pengurus Sarekat Islam untuk mendaftarkan organisasi tersebut menjadi sebuah badan hukum[3].

Perluasan metode perjuangan hingga ke ranah politik semakin membuat Sarekat Islam benar-benar menjadi kuat, juga akibat segmentasi basis dukungan yang tidak lagi terbatas pada kalangan pengusaha muslim membuat Sarekat Islam menjadi organisasi yang besar saat itu. Hingga pemerintah kolonial pada awalnya enggan untuk memberikan izin sebagai badan hukum. Namun pada akhirnya permintaan itu dikabulkan pada tahun 1916.

Titik keterbukaan SI dalam mendeklarasikan jati dirinya menjadi jati diri politik adalah pada bulan Juli 1916 dalam Kongres SI di Bandung, dengan 80 perwakilan SI lokal (daerah) dan 360.000 anggota. Sebuah jumlah yang sangat besar bagi organisasi non-kolonial saat itu. Kongres itu disebut sebagai Kongres Nasional SI, yang memang bertujuan untuk menyatukan penduduk asli Indonesia sebagai satu bangsa[4].

Dua pilar kekuatan bangsa sudah mulai dijamah oleh SI. Pilar kekuatan ekonomi dan pilar kekuatan agama atau dalam hal ini politik adalah hal yang dikejar oleh mereka. Jelas, hal ini bertujuan untuk membingkai kemandirian bangsa dalam persatuan rakyat Indonesia. Kita dapat mengambil pelajaran menarik bahwa ketika masyarakat terlebih dahulu dilayani – yang dalam hal ini adalah usaha SDI dalam memandirikian perekonomian umat, untuk selanjutnya akan mudah untuk menggalang dukungan mereka. Dalam politik, aset terbesar adalah dukungan masyarakat. Dan hal ini sudah menjadi kepunyaan SI ketika mulai menginisiasi kebangkitan bangsa.


[1] A French View Of The Netherlands Indies, G.H. Bosquet.

[2] Baca: Nagara Krtagama, Masa Keemasan Majapahit, Prof. Dr. Drs. I Ketut Riana, S.U, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2009.

[3] Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme Sampai Kemerdekaan, Jilid. 1, Prof. Dr. Slamet Muljana, Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2008. Hal. 122 – 125.

[4] Ibid.

Selasa, 13 Juli 2010

Benturan Dengan Kenyataan

Kau boleh saja bernyanyi

Tetapi bernyanyilah untuk kebahagiaan

Jangan karena kesenangan

 

Kau boleh saja menari

Tetapi menarilah untuk memberi

Bukan kepuasan diri

 

Lakukan apa yang ada di hatimu

Jangan dengarkan perutmu

 

Dan biarkan riak-riak itu terjadi

Lalui dengan tegar hati

Bukan karena mereka tidak menyukai

Hanya saja mereka tidak mengerti

 

Membuat mereka mengerti jauh lebih mulia

Pakai hatimu untuk membuka

Pakai pikiranmu untuk terbuka

Dan gunakan telingamu untuk peka

 

Tidaklah Dia memberimu cobaan

Melainkan engkau sedang diperhatikan

Artinya engkau tidak diacuhkan

Dekati Ia selagi terbuka jalan

 

Namun jangan sesekali engkau menyalahkan

Ketika impian tidak sesuai harapan

Benturan dengan kenyataan

Adalah tanda engkau diperhatikan

Juga disadarkan lewat pembelajaran

 

 

 

Minggu, 11 Juli 2010

Berbicara Tentang Indonesia

Berbicara Tentang Indonesia

 

 

Berbicara tentang Indonesia

Kau akan menemukan hamparan laut yang biru

Biru di permukaan, warna-warni di dalam

 

Berbicara tentang Indonesia

Kau akan menemukan hijaunya sebuah negeri

Hijau yang meneduhkan, juga menenangkan

 

Berbicara tentang Indonesia

Kau akan menemukan warna rakyatnya

Warna sebuah harmoni, simfoni, dan spektrum mengagumkan

 

Berbicara tentang Indonesia

Tiada habis pembicaraannya

Begitu pula berbuat untuk menyehatkannya

 

Berbicara tentang Indonesia

Kau akan belajar mengenai tanah air

Namun tidak untuk ibu pertiwi

 

Berbicara tentang Indonesia

Kau mungkin akan terjebak dalam nostalgia

Juga akan terbelalak dalam realitas

 

Berbicara tentang Indonesia

Hanya butuh waktu

Untuk menjadikannya bahan pembicaraan dunia

 

Berbicara tentang Indonesia

Tiada habis pembicaraannya

Begitu pula berbuat untuk membangkitkannya

 

Sabtu, 05 Juni 2010

Usaha, Hasil, dan Takdir

Usaha, Hasil, dan Takdir

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk, 67: 1 – 2).

Salah satu frasa yang membuat saya sangat suka dengan awalan surat ini, yaitu “supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya”. Bahwa ternyata ada keterkaitan antara usaha, hasil, dan takdir, serta mengapa Allah menguji kita siapa yang lebih baik amalnya. Dalam hal ini, mari kita buka seluas-luasnya kerangka pikir kita bahwa frasa amal tidak hanya berkaitan dengan ritual agama, seperti sedekah, puasa, dan lainnya, namun lebih luas dari itu, amal adalah tindakan, kerja, dan perbuatan. Ahsanu amala berarti yang terbaik perbuatannya, kerjanya.

Dalam sebuah kasus, seorang suami sedang menemani istrinya yang sakit keras di sebuah rumah sakit. Sudah dua tahun lamanya sakit itu diderita sang istri, sehingga mengharuskan istri tersebut bolak-balik masuk rumah sakit baik untuk sekedar check up rutin maupun rawat inap jika kondisi memang sedang memburuk. Suaminya adalah suami yang sangat setia, dengan penuh kesabaran dan kerja keras sang suami tetap menemani istri selama sakit, baik dikala senang ataupun susah. Tidak sedikit pula uang yang dikeluarkan keluarga tersebut untuk pengobatan istrinya. Kali ini kondisi istri yang disayanginya itu memang sedang melemah.

Dengan penuh kesabaran dan doa, setiap harinya suami tersebut selalu di samping istrinya, usaha yang ada sebagai pemasukan utama keluarga saat ini dititipkan pengelolaannya oleh adik kandung suami tersebut. Tiap hari, dalam sholatnya, tahajudnya, tilawahnya, yang terbayang adalah senyum indah istrinya saat sudah sembuh. Ia sangat mengharapkan istrinya bisa cepat sembuh.

Namun, Allah berkehendak lain, kondisi istri semakin memburuk dan keesokan harinya, Allah memanggil belahan jiwanya untuk kembali kepada-Nya. Lunglailah suami yang perhatian dan sabar tersebut, ia seperti benar-benar kehilangan penyemangat hidupnya, tiada lagi tempat ia berbagi, tiada lagi orang yang selalu mendampinginya kemanapun ia pergi.

Maha Suci Allah, yang telah mendesain semuanya yang terjadi di dunia ini, sungguh, alam semesta ini berada di dalam genggaman-Nya. Tiada kejadian yang terlewati di dunia itu kecuali sudah tercatat tetap di Lauhul Mahfuz. Tiada sehelai daun yang jatuh kecuali itu memang sudah merupakan takdir Allah. Selama ini mungkin kita mengetahui bahwa takdir yang sudah tetap (fixed) adalah takdir mengenai kematian, jodoh, dan rizki. Namun ternyata, tidak hanya itu, pada dasarnya semua takdir sudah rapih tersimpan dalam catatan-Nya, dan sifatnya sudah tetap, sekalipun sehelai daun yang jatuh.

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. Ali-‘Imran, 3: 145).

Adanya ketetapan Allah ini bukanlah membuat kita pesimis dan bahkan tidak berbuat karena berpikir bahwa segala sesuatu sudah diatur. Namun justru di situlah titik unik dari sebuah takdir, yaitu walaupun sudah ditetapkan, namun kita tidak pernah tahu apa takdir itu sebelumnya, dan takdir biasanya muncul setelah usaha. Suami tersebut tidak pernah tahu sebelumnya apakah istrinya akan sehat atau tidak. Inilah tanda tanya itu, Allah hendak mendidik kita. Bahwa takdir itu adalah area kekuasaan Allah, dan tidak ada intervensi dari manusia manapun.

Sementara, area kekuasaan manusia adalah usaha. Seperti yang dilakukan suami tersebut, usaha yang tidak bisa dianggap kecil lagi, telah berkorban waktu, tenaga, harta, demi istri yang disayangi. Allah memberikan ruang gerak yang bebas bagi manusia untuk mengatur area kekuasaannya itu sendiri, sampai sejauh mana usaha atau kerja yang dilakukannya.

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah, 9: 35).

Namun, takdir bisa diubah oleh Allah, karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Takdir bisa diubah dengan doa, di sinilah Allah juga mendidik kita untuk selalu optimis dan berbaik sangka pada Allah.

Yang dapat menolak takdir ialah doa dan yang dapat memperpanjang umur yakni kebajikan (amal shalih). (HR. Ath-Thahawi, HR. Al-Tirmidzi dari Salman ra).

Namun terkadang, meskipun kita telah berusaha dan berdoa, nyatanya hasil itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, dan lagi-lagi di sinilah letak Allah mendidik kita, bahwa itu adalah ketetapan Allah yang harus kita lalui, ingat juga bahwa Allah tidak akan memberi cobaan kepada seorang hamba kecuali hamba itu mampu menghadapinya. Seperti istri yang pada akhirnya meninggal dunia, padahal segala usaha dan doa telah dilakukan suaminya.

Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. (QS. Al-Insaan, 76: 24).

Itu menandakan bahwa Allah mengajarkan kita bahwa tingkat kemuliaan seorang hamba adalah pada prosesnya, baik proses dalam usaha mencapai harapannya, ataupun proses dalam menghadapi harapan yang tercapai atau tidak tercapai. Process Oriented. Berbeda dengan pola pikir manusia yang result oriented. Namun sekali lagi, ini bukan tanda bahwa kita tidak usah memasang harapan, namun hal ini mengajarkan kita untuk ikhlas ketika apa yang terjadi tidak sesuai harapan.