Rabu, 11 Juli 2012
Viva La Vida! (2/2)
Viva La Vida! (1/2)
Kamis, 31 Mei 2012
Beberapa Petuah Tukang Demo
“Sekarang jaman udah berubah! Mahasiswa turun ke jalan itu udah kuno! Ga intelek! Ga elegan! Sekarang jamannya menghasilkan karya, menghasilkan inovasi, pergi ke desa, bikin comdev”.
Sabtu, 19 Maret 2011
Sicher...
Sicher...
Kini, kehidupan mulai memasuki babak baru
Ketika hujan datang tidak menentu
Ketika matahari tidak lagi ditemui sepanjang hari
Saat semua pergi
Yang ada hanya tinggal asa
Sampai kita benar-benar punya sayap
Atau kita bisa mengabaikan gaya gravitasi
dan bebas pergi
Ketika itu, meskipun jauh
Matahari akan
ku gapai
Bintang akan
ku kejar
Hujan akan
ku bawa kembali
ke bumi
Membasahi setiap hati yang kering
Menghidupkan jiwa-jiwa yang mulai hampa
Namun,
Kapankah kita punya sayap?
Kapan pula teknologi
maju sedemikian pesatnya?
Juga kapan gravitasi nol?
Yang ada,
hanya pertolongan Allah
Dan itu
dekat
Senin, 13 Desember 2010
Kelahiran Para Aktivis dan Kematian Para Idealis
Siapa tidak kenal aktivis mahasiswa seperti Sjahrir, Hariman Siregar, Fadjroel Rachman, Mustafa Kamal, dan aktivis mahasiswa lainnya di masa lalu? Orang-orang seperti mereka menjadi inspirasi di eranya. Suara lantang mereka yang terus bergaung di telinga penguasa pongah di eranya hingga saat ini terekam secara manis di benak penerus-penerusnya. Getir perjuangan yang dilakukannya selama mahasiswa tidak lekang ditelan zaman.
Namun masih ada hal yang mengganjal dari sosok seorang Hariman Siregar. Ketika banyak pihak mempertanyakan motif gerakan-gerakan yang ia buat, maka seketika itu ia menjawab bahwa motifnya adalah memperbaiki keadaan bangsa. Kata-kata itu diikuti dengan ketidakinginannya untuk meraih kekuasaan.
Senin, 01 November 2010
Tentang Harapan...
Tentang Harapan…
Nasihat dan Keteladanan
Sebagian dari kita mungkin mengetahui tentang Tariq bin Ziyad. Orang-orang spanyol mengenalnya dengan nama Taric el Tuerto, yang berarti Tariq yang memiliki satu mata. Fokus. Dia adalah seorang jenderal perang. Dengan pimpinannya pasukan perang muslim berhasil menaklukkan daerah Andalusia, daerah yang kini menjadi Spanyol, Portugal, Andorra, dan Giblartar. Dia adalah salah satu referensi terbaik jika kita ingin mencari tokoh –selain rasul- yang terkategorikan sebagai pemimpin. Pemimpin yang hebat, yang bisa menggelorakan semangat pasukannya, membangkitkan semangat juangnya, untuk satu tujuan: tegaknya Islam di seluruh penjuru bumi Allah.
Pemimpin adalah ia yang bisa membagi mimpinya, dan orang lain mengikutinya karena mimpi yang dibaginya. Tidak mudah menggerakkan ribuan orang hingga mereka benar-benar bergerak. Selama ini ternyata membuat orang lain sepakat dengan mimpi kita tidaklah cukup. Menjadikannya mimpi bersama ternyata merupakan tahap paling dini dalam membuat orang lain mau bergerak.
Menjadikannya meresap dalam hati, baru hanya bisa mengeluarkan rasa. Belum bisa menggerakkan raga. Butuh satu sentuhan lagi untuk membuat orang lain bergerak: kepeloporan dan keteladanan. Karenanya, tidak heran jika Rasul mengemukakan bahwa satu keteladanan lebih baik ketimbang seribu nasihat. Bukan menafikkan nasihat, bukan pula mengecilkan efektivitas dari sebuah nasihat, akan tetapi menyempurnakannya dengan teladan adalah jauh lebih baik ketimbang hanya meninggalkannya dengan nasihat.
Komitmen dan Totalitas
Sekarang kita kembali kepada penaklukkan Andalusia. Sebenarnya, penaklukkan ini bukanlah kerja keras Tariq seorang. Sebelumnya Tharif bin Malik pernah membawa pasukannya ke Andalusia untuk merintis dan menyelidik tentang kekuatan kerajaan Visigothic, yang sedang berkuasa di sana. Hingga pada akhirnya mimpi ini diteruskan oleh Tariq.
Dengan sekitar 7000 bala tentara yang telah dibekali dengan semangat dan keimanan, Tariq mantap untuk maju. Menyeberangi laut dengan membawa pasukan yang banyak bukan perkara mudah. Tanpa komitmen yang kuat, bisa saja terjadi kericuan dan penurunan mental pasukan untuk berperang. Bukan tidak mugkin sebuah kapal lari dan memisahkan diri dari rombongan yang ada di lautan. Apalagi dengan fakta bahwa pasukan yang dipimpinnya berasal dari suku-suku yang berbeda: Barbar dan Arab. Sebagian besar pasukan yang terdiri dari suku Barbar adalah atas kiriman dari pemimpin Afrika Utara saat itu, Musa bin Nushair, dan sebagian lainnya adalah suku Arab kiriman dari Khalifah Al-Walid, dari Damaskus.
Sungguh, tidak ada kata lain yang dapat mempersatukan dua suku yang berbeda tempat berkembangnya untuk menjadi satu kesatuan yang rapi kecuali dengan adanya komitmen dan kesadaran bersama terkait mimpi yang akan dituju.
Setelah tiba di Andalus, Tariq langsung memerintahkan pasukannya untuk membakar semua kapal yang mereka pakai untuk menyeberang. Sebuah hal yang mengagetkan. Namun lebih mengagetkan lagi ketika kita mengetahui bahwa memang pasukannya adalah pasukan yang berkomitmen dan ingin total dalam berperang, sehingga sekejap habislah semua kapal mereka. Tentunya manusiawi ketika ada yang berpikir bahwa keputusan ini adalah keputusan yang bodoh, tentu ada yang tidak setuju dengan keputusan ini. Namun, komitmen telah meredam semua gejolak emosi yang terjadi. Kesadaran dan totalitas dalam berjuang.
Keikhlasan dan Kesabaran
“Tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian: Demi Allah, tidak ada yang dapat kalian sekarang lakukan kecuali bersungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran.” (Tariq bin Ziyad)
Yakinlah, setiap tujuan butuh keikhlasan dan kesabaran. Apalagi jika tujuan itu adalah perintah Allah. Ia tidak akan menyia-nyiakan usaha kita. Datangnya musibah adalah evaluasi bagi kita untuk memperbaiki keikhlasan, juga ujian mengenai kesabaran.
Sekarang, sudah sampai manakah harapan bersama kita sekarang?
Senin, 09 Agustus 2010
Sarekat Dagang Islam (SDI)
Sarekat Dagang Islam
(SDI)
Perjuangan pemikiran saat itu diawali oleh kaum terpelajar, dengan membentuk wadah yang dapat menyuarakan aspirasi sebanyak-banyaknya pihak. Wadah ini ibarat kendaraan dan payung. Disebut kendaraan karena didirikan untuk mencapai tujuan, dalam artian adanya kendaraan bertujuan untuk mempermudah, bukan mempersulit. Juga sebagai payung artinya tempat berlindung, hal ini sesuai dengan fitrah manusia yang akan semakin berani bersuara ketika beramai-ramai.
Kendaraan perjuangan yang pertama kali didirikan saat itu adalah Sarekat Dagang Islam (SDI), yaitu pada tahun 1905. Organisasi ini didirikan oleh Haji Samanhudi, seorang pedagang batik dari Surakarta (Solo), dan bertujuan menghimpun pengusaha-pengusaha batik untuk memperkuat perekonomiannya untuk ‘melawan’ dominasi pengusaha Cina dalam bidang tekstil dan batik juga. Namun, perlawanan terhadap dominasi pengusaha Cina ini hanya salah satu tujuan dari SDI. Tujuan utamanya sebenarnya adalah menguatkan perekonomian umat, sehingga umat mancapai kemandiriannya dalam ekonomi.
Sebenarnya perekonian yang semakin lemah bukan saja melanda umat Islam, tetapi hampir seluruh penduduk pribumi. Melemahnya kondisi ini terjadi sudah lama, yaitu sejak penjajah Eropa menguasai Nusantara[1]. Penjajah saat itu melakukan berbagai cara untuk menguasai wilayah Nusantara, mulai dari penjajahan fisik secara langsung, pencaplokan daerah belum terkuasai, ataupun dengan perjanjian-perjanjian licik yang merugikan pribumi. Sehingga ketika banyak daerah terkuasai, terutama tanah, maka perekonomian semuanya akan dikuasai oleh tuan-tuan tanah. Penduduk pribumi pada akhirnya saat itu hanya menjadi pekerja.
Kita tidak akan terlalu mendalam dalam membahas tentang Sarekat Dagang Islam ini, dikarenakan tulisan ini bukanlah tulisan yang kembali mengulas sejarah masa lampau, menceritakan pergolakan sosial dari waktu ke waktu di masa lampau, kemudian mengambil sebanyak-banyaknya literatur untuk merekonstruksi sejarah yang kurang. Tulisan ini bertujuan untuk mengambil sejarah sebagai bahan pelajaran sesuai dengan isi bab buku ini, yaitu peralihan metode perjuangan.
Saya menilai bahwa perjuangan para pemuda dan kaum terpelajar yang tergabung dalam SDI adalah perjuangan yang sangat cerdas. Hal ini dikarenakan beberapa hal berikut:
1.
2.
3.
Tahun 1912 menjadi momentum perubahan besar SDI. Saat itu SDI di bawah kepemimpinan Haji Oemar Said Tjokroaminoto merubah dirinya menjadi Sarekat Islam (SI). Perubahan nama dilatarbelakangi oleh keinginan untuk memperluas metode dan segmentasi basis dukungan, untuk selanjutnya menggalang kekuatan sebuah perjuangan. Sarekat Islam tidak hanya bertujuan untuk berjuang dalam hal perdagangan dan ekonomi semata, tetapi lebih dari itu, yaitu perjuangan politik. Hal ini dibuktikan dengan usaha pengurus Sarekat Islam untuk mendaftarkan organisasi tersebut menjadi sebuah badan hukum[3].
Perluasan metode perjuangan hingga ke ranah politik semakin membuat Sarekat Islam benar-benar menjadi kuat, juga akibat segmentasi basis dukungan yang tidak lagi terbatas pada kalangan pengusaha muslim membuat Sarekat Islam menjadi organisasi yang besar saat itu. Hingga pemerintah kolonial pada awalnya enggan untuk memberikan izin sebagai badan hukum. Namun pada akhirnya permintaan itu dikabulkan pada tahun 1916.
Titik keterbukaan SI dalam mendeklarasikan jati dirinya menjadi jati diri politik adalah pada bulan Juli 1916 dalam Kongres SI di Bandung, dengan 80 perwakilan SI lokal (daerah) dan 360.000 anggota. Sebuah jumlah yang sangat besar bagi organisasi non-kolonial saat itu. Kongres itu disebut sebagai Kongres Nasional SI, yang memang bertujuan untuk menyatukan penduduk asli Indonesia sebagai satu bangsa[4].
Dua pilar kekuatan bangsa sudah mulai dijamah oleh SI. Pilar kekuatan ekonomi dan pilar kekuatan agama atau dalam hal ini politik adalah hal yang dikejar oleh mereka. Jelas, hal ini bertujuan untuk membingkai kemandirian bangsa dalam persatuan rakyat Indonesia. Kita dapat mengambil pelajaran menarik bahwa ketika masyarakat terlebih dahulu dilayani – yang dalam hal ini adalah usaha SDI dalam memandirikian perekonomian umat, untuk selanjutnya akan mudah untuk menggalang dukungan mereka. Dalam politik, aset terbesar adalah dukungan masyarakat. Dan hal ini sudah menjadi kepunyaan SI ketika mulai menginisiasi kebangkitan bangsa.
[1] A French View Of The Netherlands Indies, G.H. Bosquet.
[2] Baca: Nagara Krtagama, Masa Keemasan Majapahit, Prof. Dr. Drs. I Ketut Riana, S.U, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2009.
[3] Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme Sampai Kemerdekaan, Jilid. 1, Prof. Dr. Slamet Muljana, Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2008. Hal. 122 – 125.
[4] Ibid.
Selasa, 13 Juli 2010
Benturan Dengan Kenyataan
Kau boleh saja bernyanyi
Tetapi bernyanyilah untuk kebahagiaan
Jangan karena kesenangan
Kau boleh saja menari
Tetapi menarilah untuk memberi
Bukan kepuasan diri
Lakukan apa yang ada di hatimu
Jangan dengarkan perutmu
Dan biarkan riak-riak itu terjadi
Lalui dengan tegar hati
Bukan karena mereka tidak menyukai
Hanya saja mereka tidak mengerti
Membuat mereka mengerti jauh lebih mulia
Pakai hatimu untuk membuka
Pakai pikiranmu untuk terbuka
Dan gunakan telingamu untuk peka
Tidaklah Dia memberimu cobaan
Melainkan engkau sedang diperhatikan
Artinya engkau tidak diacuhkan
Dekati Ia selagi terbuka jalan
Namun jangan sesekali engkau menyalahkan
Ketika impian tidak sesuai harapan
Benturan dengan kenyataan
Adalah tanda engkau diperhatikan
Juga disadarkan lewat pembelajaran
Minggu, 11 Juli 2010
Berbicara Tentang Indonesia
Berbicara Tentang Indonesia
Berbicara tentang Indonesia
Kau akan
menemukan hamparan laut yang biru
Biru di permukaan, warna-warni di dalam
Berbicara tentang Indonesia
Kau akan
menemukan hijaunya sebuah negeri
Hijau yang meneduhkan, juga menenangkan
Berbicara tentang Indonesia
Kau akan
menemukan warna rakyatnya
Warna sebuah harmoni, simfoni, dan spektrum mengagumkan
Berbicara tentang
Indonesia
Tiada habis pembicaraannya
Begitu pula berbuat
untuk menyehatkannya
Berbicara tentang Indonesia
Kau akan belajar mengenai tanah air
Namun tidak untuk ibu pertiwi
Berbicara tentang Indonesia
Kau mungkin akan terjebak dalam nostalgia
Juga akan terbelalak dalam realitas
Berbicara tentang Indonesia
Hanya butuh waktu
Untuk menjadikannya bahan
pembicaraan dunia
Berbicara tentang Indonesia
Tiada habis pembicaraannya
Begitu pula
berbuat untuk membangkitkannya
Sabtu, 05 Juni 2010
Usaha, Hasil, dan Takdir
Usaha, Hasil, dan Takdir
Maha Suci
Allah Yang di tangan-Nyalah
segala kerajaan, dan Dia Maha
Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya
Dia menguji kamu, siapa di
antara kamu yang lebih baik amalnya.
Dan Dia Maha
Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk,
67: 1 – 2).
Salah satu
frasa yang membuat saya sangat suka
dengan awalan surat ini,
yaitu “supaya Dia menguji kamu, siapa di
antara kamu yang lebih baik amalnya”.
Bahwa ternyata ada keterkaitan
antara usaha, hasil, dan takdir,
serta mengapa Allah menguji kita siapa
yang lebih baik amalnya. Dalam hal ini, mari kita buka seluas-luasnya kerangka pikir kita bahwa frasa
amal tidak hanya berkaitan dengan ritual agama, seperti sedekah, puasa, dan lainnya, namun
lebih luas dari itu, amal
adalah tindakan, kerja, dan perbuatan.
Ahsanu amala
berarti yang terbaik perbuatannya, kerjanya.
Dalam sebuah kasus, seorang suami sedang menemani
istrinya yang sakit keras di sebuah
rumah sakit. Sudah dua tahun lamanya sakit
itu diderita sang istri, sehingga mengharuskan istri tersebut bolak-balik masuk rumah sakit
baik untuk sekedar check up rutin maupun rawat
inap jika kondisi memang sedang memburuk. Suaminya adalah suami yang sangat setia, dengan penuh
kesabaran dan kerja keras sang suami tetap menemani
istri selama sakit, baik dikala
senang ataupun susah. Tidak sedikit
pula uang yang dikeluarkan keluarga tersebut untuk pengobatan istrinya. Kali ini
kondisi istri yang disayanginya itu memang sedang melemah.
Dengan penuh kesabaran dan doa, setiap harinya suami tersebut selalu di samping istrinya, usaha yang ada sebagai pemasukan utama keluarga saat ini dititipkan pengelolaannya oleh adik kandung suami tersebut. Tiap hari, dalam sholatnya, tahajudnya, tilawahnya, yang terbayang adalah senyum indah istrinya saat sudah sembuh. Ia sangat mengharapkan istrinya bisa cepat sembuh.
Namun, Allah berkehendak lain, kondisi istri semakin memburuk dan keesokan harinya, Allah memanggil belahan jiwanya untuk kembali kepada-Nya. Lunglailah suami yang perhatian dan sabar tersebut, ia seperti benar-benar kehilangan penyemangat hidupnya, tiada lagi tempat ia berbagi, tiada lagi orang yang selalu mendampinginya kemanapun ia pergi.
Maha Suci Allah, yang telah mendesain semuanya yang terjadi di dunia ini, sungguh, alam semesta ini berada di dalam genggaman-Nya. Tiada kejadian yang terlewati di dunia itu kecuali sudah tercatat tetap di Lauhul Mahfuz. Tiada sehelai daun yang jatuh kecuali itu memang sudah merupakan takdir Allah. Selama ini mungkin kita mengetahui bahwa takdir yang sudah tetap (fixed) adalah takdir mengenai kematian, jodoh, dan rizki. Namun ternyata, tidak hanya itu, pada dasarnya semua takdir sudah rapih tersimpan dalam catatan-Nya, dan sifatnya sudah tetap, sekalipun sehelai daun yang jatuh.
Sesuatu yang bernyawa tidak
akan mati
melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki
pahala dunia, niscaya Kami berikan
kepadanya pahala dunia itu, dan
barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan
(pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan
memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. Ali-‘Imran,
3: 145).
Adanya ketetapan Allah ini bukanlah membuat kita pesimis dan bahkan tidak berbuat karena berpikir bahwa segala sesuatu sudah diatur. Namun justru di situlah titik unik dari sebuah takdir, yaitu walaupun sudah ditetapkan, namun kita tidak pernah tahu apa takdir itu sebelumnya, dan takdir biasanya muncul setelah usaha. Suami tersebut tidak pernah tahu sebelumnya apakah istrinya akan sehat atau tidak. Inilah tanda tanya itu, Allah hendak mendidik kita. Bahwa takdir itu adalah area kekuasaan Allah, dan tidak ada intervensi dari manusia manapun.
Sementara, area kekuasaan manusia adalah usaha. Seperti yang dilakukan suami tersebut, usaha yang tidak bisa dianggap kecil lagi, telah berkorban waktu, tenaga, harta, demi istri yang disayangi. Allah memberikan ruang gerak yang bebas bagi manusia untuk mengatur area kekuasaannya itu sendiri, sampai sejauh mana usaha atau kerja yang dilakukannya.
Dan Katakanlah:
"Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu
itu, dan kamu akan dikembalikan
kepada (Allah) Yang Mengetahui
akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa
yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah, 9: 35).
Namun, takdir bisa diubah oleh Allah, karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Takdir bisa diubah dengan doa, di sinilah Allah juga mendidik kita untuk selalu optimis dan berbaik sangka pada Allah.
Yang dapat
menolak takdir ialah doa dan yang dapat memperpanjang umur yakni kebajikan
(amal shalih). (HR. Ath-Thahawi,
HR. Al-Tirmidzi dari Salman ra).
Namun terkadang, meskipun kita telah berusaha dan berdoa, nyatanya hasil itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, dan lagi-lagi di sinilah letak Allah mendidik kita, bahwa itu adalah ketetapan Allah yang harus kita lalui, ingat juga bahwa Allah tidak akan memberi cobaan kepada seorang hamba kecuali hamba itu mampu menghadapinya. Seperti istri yang pada akhirnya meninggal dunia, padahal segala usaha dan doa telah dilakukan suaminya.
Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan)
ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu
ikuti orang yang berdosa dan orang
yang kafir di antara mereka. (QS. Al-Insaan,
76: 24).
Itu menandakan bahwa
Allah mengajarkan kita bahwa tingkat kemuliaan
seorang hamba adalah pada prosesnya,
baik proses dalam usaha mencapai
harapannya, ataupun proses dalam menghadapi
harapan yang tercapai atau tidak tercapai.
Process Oriented. Berbeda
dengan pola pikir manusia yang result oriented. Namun
sekali lagi, ini bukan tanda
bahwa kita tidak usah memasang
harapan, namun hal ini mengajarkan
kita untuk ikhlas ketika apa yang terjadi tidak sesuai harapan.
