Meneropong Perindustrian Nasional: Deindustrialisasi
Kian Nyata
Kondisi Umum
Memasuki era globalisasi dan perkembangan teknologi informasi,
setiap negara dituntut untuk memperkuat pilar-pilar perekonomiannya.
Perindustrian sebagai salah satu pilar ekonomi, yang dalam hal ini
berkontribusi menyumbang PDB harus kuat. Sejak tahun 1967 hingga 2004,
perekonomian Indonesia mengalami perubahan struktur yang sangat signifikan.
Peranan sektor industri terhadap PDB meningkat dari 7,3% menjadi 28,1%. Hal ini
diiringi dengan penurunan kontribusi sektor pertanian terhadap PDB dari 53,9%
menjadi 14,3%. Tidak diragukan lagi bahwa Indonesia sudah masuk ke fase
industrialisasi hingga tahun 2004.[1]
Namun sejak 2004 hingga 2009, kontribusi sektor industri terhadap PDB semakin
menunjukkan tren penurunan. Departemen Perindustrian RI melaporkan bahwa
kontribusi sektor industri terhadap PDB menurun dari 28,1% menjadi 27,34%.
Tidak hanya itu, sektor industri semakin menunjukkan pertumbuhan minus, dari 6,38% di tahun 2004, menjadi
4,60%; 4,59%; 4,67%; 3,66%; dan 2,31% pada tahun 2009. Melihat kenyataan ini,
banyak pengamat ekonomi mengindikasikan terjadinya “deindustrialisasi”. Hal ini
juga ditunjukkan dengan penurunan kapasitas terpasang industri dari 80% menjadi
60%, penurunan jumlah unit usaha industri skala sedang dan besar, dan penurunan
signifikan dari indeks produksi industri sedang dan besar.[2]
Deindustrialisasi yang terjadi semakin diperparah dengan sejumlah
perdagangan bebas yang diikuti oleh Indonesia, seperti ASEAN – China Free Trade
Agreement (ACFTA), Indonesia – Japan Economic Partnership Agreement (IJ-EPA),
dan lainnya. Industri kita ibarat menghadapi lawan berat semacam China dan
Jepang yang perindustriannya sudah sangat mumpuni. United Nations Industrial
Development Organization (UNIDO) melaporkan bahwa China menduduki posisi
pertama dalam kinerja industri di Asia Timur dan Tenggara, sedangkan Indonesia
pada urutan ke-38. Tidak hanya itu, pertumbuhan nilai ekspor dan impor
Indonesia dalam lima tahun terakhir tercatat 11,50% berbanding 24,47%.
Beberapa Contoh
Memang tidak semua cabang industri mengalami
deindustrialisasi. Namun, gejala umum menunjukkan bahwa walaupun tidak semua,
industri yang mengalami deindustrialisasi jauh lebih banyak dibandingkan yang
tidak mengalami deindustrialisasi. Tabel berikut adalah laju pertumbuhan
industri 2004 – 2009. Data ini diambil dari Badan Pusat Statistik RI. Kita
dapat melihat mana bahwa hanya industri barang kayu dan hasil hutan yang
menunjukkan gejala pertumbuhan, yaitu terus menanjak dari -2,07% sampai 2,44%.
Industri alat angkut, mesin, dan peralatan mengalami pertumbuhan konstan, yaitu
sekitar 9,7% dalam beberapa tahun tersakhir.
Sisanya, mayoritas cabang industri mengalami
penurunan. Industri makanan, minuman, tembakau, tekstil, barang kulit, alas
kaki, kertas, barang cetakan, pupuk, kimia, barang dari karet, semen, barang
galian non logam, logam dasar, besi, baja, dan lainnya.
Dampak Buruk Deindustrialisasi
Setelah kita mengurai bagaimana tentang indikator dan penyebab
terjadinya deindustrialisasi, kini kita akan membahas mengenai akibat
deindustrialisasi yang terjadi di Indonesia. Dari beberapa sumber yang akan
disebutkan kemudian, setidaknya dapat ditemukan empat akibat terjadinya
deindustrialisasi. Pertama, semakin berpotensinya
negara kita menjadi negara yang konsumtif. Hal ini nantinya dapat dibuktikan
dengan neraca ekspor-impor dalam beberapa tahun belakangan ini. Kedua, meningkatkan ketergantungan
kepada negara-negara pengekspor barang manufaktur. Ketiga, sulitnya melakukan reindustrialisasi. Keempat, tingkat penyerapan tenaga kerja menurun.
Melemahnya perindustrian Indonesia, ditambah dengan era perdagangan
bebas yang sudah banyak diberlakukan sekarang tentunya membawa dampak pada
semakin berpotensinya Indonesia menjadi negara konsumtif. Pasalnya, kebutuhan
masyarakat terhadap suatu barang tentunya akan selalu ada, dan tarafnya akan
selalu meningkat –dan harus ditingkatkan- dari waktu ke waktu.[3] Itulah
sebabnya jika kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi oleh bangsa
sendiri, akan menyebabkan negara ini menjadi negara yang akan membeli dari
bangsa lain.
Pada akhir 2009, nilai impor Indonesia mencapai USD 10.299.947.949.
Nilai ini sedikit menurun di awal 2010, yaitu sekitar USD 9.490.458.938. Namun,
mulai naik kembali pada Maret 2010, hingga pada Juli, nilai impor telah
mencapai sekitar USD 12.625.936.085.[4] Tidak
hanya itu, pada tahun 2008, neraca perdagangan Indonesia dan China mengalami
lonjakan balik yang drastis, mengakibatkan terjadinya defisit bagi Indonesia
sebesar USD 3,6 miliar. Padahal di tahun sebelumnya, Indonesia masih memiliki
nilai surplus USD 1,1 miliar. Lebih mengejutkan lagi apabila kita melihat
defisit perdagangan produk non migas Indonesia meroket dari USD 1,3 miliar di
tahun 2007 menjadi USD 9,2 miliar di tahun 2008 (terjadi lonjakan sekitar
600%). Antara Januari hingga Oktober 2009, defisit serupa telah mencapai USD
3,9 miliar.[5]
Menjadi negara konsumtif, yang juga menjadi negara pengimpor akan
membawa dampak lain yang lebih berbahaya, yaitu ketergantungan kepada bangsa
lain. Secara logika, melemahnya industri manufaktur Indonesia akan sejalan
paralel dengan meningkatnya impor barang-barang produksi, jika memang
kebutuhan-kebutuhan masyarakat tidak akan dikorbankan. Selama ini, kontribusi
nilai dan berat ekspor Indonesia masih didominasi dari hasil industri primer,
beberapa contohnya yaitu natural rubber,
wood, plywood, chemical wood pulp, paper,
paperboard, cotton yarn, fish, palm oil, coffee, cocoa beans, dan
sebagainya.[6]
Tingkat ketergantungan Indonesia kepada negara lain dapat kita lihat
dari tingkat impor negara-negara manufaktur besar yang selama ini menjalin
hubungan dengan Indonesia. Negara-negara manufaktur besar itu antara lain
adalah China. Nilai impor dari China hingga Maret 2010 bernilai rata-rata USD
1.416.486.811 dan terus meningkat hingga menyentuh USD 1.982.162.360 pada Juli
2010. Sementara impor dari US, hingga pertengahan 2010 ini mencapai sekitar USD
800 juta.[7] Nilai
impor yang tinggi ini jauh di atas rata-rata impor negara lain yang hanya
berkisar USD 66 juta.
Selanjutnya, deindustrialisasi juga dapat menyebabkan sulitnya
reindustrialisasi. Reindustrialisasi atau menggairahkan kembali sektor industri
bukanlah perkara mudah. Solusi koprehensif harus benar-benar diterapkan. Mulai
dari solusi mikro berupa mempermudah investasi dan pemasaran, hingga langkah
mikro berupa stabilisasi perekonomian.
Beberapa
contoh industri yang mengalami deindustrialisasi adalah industri kertas dan
barang cetakan, yang mengalami pertumbuhan minus sebesar 16,3%. Kemudian, tekstil,
barang dari kulit, alat kaki, serta barang dari kayu dan hasil hutan yang
tumbuh minus 10,3%, serta semen dan barang galian non-logam mengalami yang pertumbuhan
minus 3,1%.[8]
Tekstil, terutama merupakan komoditi ekspor manufaktur yang cukup diandalkan di
Indonesia. Dari segi jumlah yang diekspor, tekstil selalu menempati urutan 3 –
5 barang manufaktur.[9]
Tidak mudah untuk kembali melakukan pengembangan industri. Karena itu, butuh
dukungan banyak pihak untuk membantu melakukan revitalisasi industri Indonesia.
Dampak
terakhir, dan yang paling populis di masyarakat adalah terkait penyerapan
tenaga kerja. Secara logika, penurunan jumlah industri, baik kecil maupun
besar, membawa dampak pada menurunnya peluang kerja bagi masyarakat.
Industri manufaktur merupakan penyerap tenaga kerja formal terbesar. Deindustrialisasi
mengakibatkan
pekerja sektor formal semakin terdesak. Dalam beberapa tahun terakhir,
persentase pekerja di industri manufaktur mengalami penurunan, dari 18,8 persen
tahun 2005 menjadi 12,07 persen tahun 2009.[10]
Hal inilah yang menyebabkan daya serap tenaga kerja sektor formal merosot. Penguatan industri manufaktur sehingga bisa meningkatkan daya serap tenaga
kerja di sektor formal diyakini juga akan mempercepat penurunan angka
kemiskinan.
Maka…
Deindustrialisasi semakin berpotensi membawa Indonesia pada
dependensi. Jika hal ini terjadi, maka kemerdekaan Indonesia menjadi semu,
karena hanya dicapai oleh kemerdekaan fisik saja. Kemerdekaan ekonomi menjadi
hal yang semakin jauh dari harapan. Kita tidak bisa memakan apa yang kita
tanam, tidak bisa memakai pakaian dari kapas kita sendiri, tidak bisa bepergian
dengan logam yang ada di perut bumi kita sendiri, dan segala dependensi
lainnya. Impian menjadi negara yang mandiri dan kuat tidak akan terealisasi
jika terjadi deindustrialisasi.
Masalah ini bukan hanya dibebankan pada pemerintah, namun juga segenap
kalangan masyarakat. Masyarakat biasa sebagai orang-orang yang bekerja pada
sektor industri, mahasiswa yang akan memberi sumbangsih riset bagi sektor
industri, kalangan pemodal yang akan membantu kebutuhan modal industri, dan
lainnya sangat berperan penting dalam upaya minimasi fenomena
deindustrialisasi. Namun, semua kembali lagi pada political will pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan sektor
industri dan daya saingnya.
Simposium Perindustrian ITB 2011 kali ini ingin membuka
sebesar-besarnya mata masyarakat Indonesia pada umumnya dan mahasiswa pada
khususnya terhadap melemahnya sektor industri Indonesia, meneliti
sebab-sebabnya, dan mencari upaya untuk membantu perkembangan kembali industri
nasional. Dengan memanfaatkan potensi mahasisiswa berupa kritis, idealis,
mempunyai basis keilmuan, dan jaringan yang banyak se-indonesia, diharapkan isu
perindustrian nasional ini dapat memasuki orbit wacana mahasiswa Indonesia.
[1] Departemen
Perindustrian RI. Laporan Pengembangan
Sektor Industri 2009. 2009.
[2]
Ibid
[3] M.
Baqir Ash Shadr. Buku Induk Ekonomi Islam.
2008. Jakarta: Zahra Publishing House.
[4] Badan Pusat Statistik. 2010. http://www.bps.go.id.
[5]
Artikel: Faisal Basri. ASEAN-China Free
Trade Area dan Deindustrialisasi. 2010.
[6] Departemen Perdagangan Republik Indonesia. Tabel Perkembangan Nilai dan Volume 100
Jenis Barang Ekspor Utama Indonesia. 2009.
[7] Badan Pusat Statistik. 2010. http://www.bps.go.id.
[8]
LP3ES. Titik Nadir Deindustrialisasi.
2008
[9] Departemen
Perdagangan Republik Indonesia. Tabel
Perkembangan Nilai dan Volume 100 Jenis Barang Ekspor Utama Indonesia.
2009.
[10] Badan Pusat Statistik. 2010. Badan Pusat Statistik. 2010. http://www.bps.go.id.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar